Penggalian Sumur Zam-Zam
Abdul Muthallib
bertugas sebagai penerima tamu haji. Dan beliau menjamunya setelah pamannya
muthallib meninggal. Beliau memberi makan dan minum orang-orang ketika melaksanakan
haji ke baitullah. Beliaupun menampung air di beberapa kolam untuk mereka dan
kesulitan juga beliau temui di saat pengumpulan air ini untuk minum mereka,
kemudian ketika suatu malam beliau tidur, datanglah seorang dengan sosok yang
tidak jelas, sosok itu berkata dengan suara yang halus dan aneh, suaranya ramah
dan santun “galilah thaybah” beliau
menjawab “ apa itu thaybah?” kemudian sosok itu hilanng.
Suara itupun
terputus, dan pemuda itu bangun terkejut, heran dalam dirinya. Kemudian pemuda
itu berupaya tidur kembali agar bisa memimpikan sosok itu agar bisa
mendengarkan suara dengan jelas. Akan tetapi kantuk telah pergi, dan menghilang
bersama sosok aneh tersebut.
Kemudian dia lama
berfikir serta mempertimbangkan dengan cukup lama dan berbolak balik dalam
tidurnya. Karena itu, dia berada di antara tidur dan bangun. Ketika dia bosan
diatas tempat tidurnya, maka dia duduk sambil menengadahkan pandangan
bingungnya kelangit. Barangkali terik matahari atau bintang malam dapat
menafsirkan mimpi tersebut. Kemudian menurunkan pandangannya ke ka’bah,
barangkali salah satu dari berhala yang berdiri itu dapat memberikan takbir
mimpinya tersebut. Akan tetapi langit terdiam, dan bumi tenang dan di atas
patung tersebut terdapat sesuatu kegalauan, maka dia memalingkan pandangannya dari
patung-patung tersebut dengan pandangan lelah, dan menjatuhkan dirinya pada
ketetapan dirinya yang terdalam berharap menemukan tanda dari mimpinya akan
tetapi dia tidak menemukan sesuatu. Maka bertambahlah kesedihannya beserta kekagetannya.
Yang tersisa hanyalah harapan. Kemudian bangkitlah Abdul Muthallib untuk
menyibukkan dirinya bersama orang agar dapat melupakan kegelisahan dari masalah
hidupnya. Dan dia menyambut malam, dan menempati kembali tempat tidurnya dan
segalanya telah di lupakan kecuali dia telah berjalan dan berusaha sekuat
mungkin bahwa hanya dia butuh untuk beristirahat malam ini.
Dialah yang tidur dalam keadaan tenang dan lelap, dan segala
sesuatu di sekitarnya juga tenang dan segala sesuatu yang ada pada badan dan
jiwanya juga tenang, tetapi sosok asing itu menghampirinya dengan perlahan
hingga dia mendekatinya lalu dia berkata dengan suara yang lirih dan aneh,
suaranya lemah dan santun. Jadilah burrah, badannya terang namun jiwanya
goncang dan lisannya bergerak dan suaranya muncul dari kedua bibirnya yang
halus dan lirih dengan kalimat ini ; dan apakah burrah itu ?? sosok itu hilang
dan suaranya terputus.
Abdul muthallib
terbangun dengan perasaan terkejut, dan penuh pertanyaan, dia berfikir dan
membolak-balikkan badan, kemudian dia bangkit serta bertanya pada langit, tapi
langit terdiam, dan bertanya pada bumi, tapi bumi tenang-tenang saja. Dan
bertanya pada berhala-berhala ka’bah tapi tergelam dalam kesedihan, sosok
pemuda itu menjadi bingung dengan sendirinya dengan dilangit, dibumi, dan
berhala. Dia pergi tidak tentu arah, dan dia pergi dengan menyibukkan diri
untuk melupakan sosok aneh ini, dan siangpun berlaku dengan kebaikan dan
kejelekannya dan malampun datang sedikit demi sedikit, dia membentangkan
selimut hitam kegalauan di sekitar mekkah dari gunung-gunung dan bukit-bukit,
malam itu tidak henti-hentinya memanjangkan kegalauan sampai akhirnya tertutup,
dan semuanya menjadi gelap, andai kata tidak ada cahaya yang menerangi bumi,
dan bintang-bintang sedikit berkelip-kelip di langit.
dan pemuda itu menghabiskan malamnya dengan orang-orang yang
begadang, sampai larut malam, dan ketika keadaan sudah hening mereka semua pulang
namun pemuda itu merasa berat untuk bangkit dari tempat berkumpul.Lalu dia
berjalan kerumahnya dengan pelan sambil berpikir, haruskah dia tidur atau
tidak?
Lihatlah pemuda
itu sesungguhnya dia dalam keadaan bingung, akankah dia tidur karena rasa
kantuknya sudah memuncak ? atau dia menahannya untuk tidur. Oleh karena itu dia
bingung terhadap apa yang bisa (menahan rasa kantuk), karena rasa kantuk itu
bila dibiarkan akan menenggelamkan dirinya dengan perkara-perkaranya.
Lihatlah! Apakah engkau melihat gerakan ? dengarkan ! apakah engkau
dapat memahami ramalan ? semuanya diam, semuanya tenang. Maka apa yang
menjauhkanmu dan apa yang mencegahmu ? teruslah tidur, dan jangan takut kepada
apapun, sesungguhnya gelombang ini menggoncangkan tetapi tidak sampai
menenggelamkan, menghadaplah kepada kedua lengan yang memanjang kearahmu ini,
maka engkau akan dapat melupakan segalanya, dan siapa yang tahu? Barangkali di
antara keduanya engkau mendapatkan obat dari kebingunganmu.
pemuda itu (Abdul
Muthallib) menutup kedua kelopak matanya, dan terjang dihadapannya, gelombang
tidur itu telah menyelimutinya seperti menyelimutinya kepada yang lain dari
manusia, namun tetapi apa ? sosok ini datang seraya berlari dengan tenang
seakan-akan dia terbang di atas angin, sampai ketika sudah dekat dengan pemuda
itu (Abdul Muthallib), lalu berkata dengan suara yang halus dan asing, dengan
kelembutan dan sopan santun, (jadilah مضنونة).
Suara lembut lirik
ini terucap diantara kedua bibir pemuda, seraya berkata (apa مضنونة?)
lalu sosok itu menghilang,dan tiba tiba pemuda
tersebut tersadar dalam keadaan takut,dan waspada sungguh segala sesuatu
telah berkecamuk dalam jiwanya dan timbullah rasa putus asa.
Dan itu
menghabiskan malam panjangnya dengan berat, hingga matahari membentang
menyinari dataran tinggi dan dataran rendah mekkah dengan cahayanya yang
cemerlang ini begegas menuju masjid, dia ingin menceritakan masalahnya kepada
dukun, akan tetapi hampir sampai ke tempat perkumpulan kaum quraisy. Tiba-tiba
kegelisahannya hilang, dan juga kesedihannya, dan hatinya penuh dengan
ketenangan dan keteguhan. Apa ? apa dukun mengira kalau aku gila. Dan perkataan
ini berkecamuk dalam diriku.
Kemudian pemuda itu tertidur ditempat tidurnya dengan keadaan yang
tenang. Dan saat dia terbangun dari tidur dia merasa bergembira dan senang,
akan tetapi orang ini berusaha untuk tenang mendatanginya seakan-akan melayang
diudara, sehingga ketika dekat dari pemuda itu menunduk kepadanya, dan
meletakkan tangannya yang kedinginan di atas dahi. Suaranya halus dan aneh
dengan ramah dan santun, (galilah Zam-zam) dan jiwa pemuda itu penuh dengan
kegelisahan, dan membuka kedua bibirnya berkata
(apa zam-zam itu)
Sosok aneh
menjawab dengan suara halus dan ramah, ejekan telah berkecamuk dari suara
keasingan, (jangan menjauh para jamaah haji memberi minum, diantara kotoran dan
darah disisi patokan burung.
Sekali-kali tidak,
dan pemuda itu datang kepada keluarganya, setelah menemui istrinya istrinya
mengingkari kembalinya dia dari pagi, kemudian pemuda tersebut menceritakan
kisahnya kepada istrinya, kemudian istrinya berkata kepadanya : tenang, dan
janganlah kamu terbelenggu dengan rasa takut dan janganlah kamu berlebihan
dalam kegalaun, dan sebenarnya apa yang menghalangi untuk lebih dekat dengan
tuhan ? bangkitlah untuk mereka, mendekatkan kepada mereka, maka mereka akan
ridha, begitu juga orang-orang fakir dan orang-orang yang kelaparan juga akan
ridha.
Sesaat setelah itu
halaman masjid akan penuh dengan manusia dan serambi mekkah memasuki hari yang
penuh pengorbanan dan kemakmuran, pada hari itu terdapat banyak makanan dan
minuman, dan berhala-berhala itu akan ridla serta pemuda itu sibuk dengan apa yang
terlihat, dan Abdul Muthallib itu lupa terhadap sesuatu yang penting baginya,
dan tak mengira sudah menghindar dari kejelekan dan tak kembali terjerat dalam
kekejian.
Maka pemuda itu
berkata. (sekarang aku sudah tahu) dan dia beredar dengan senang dan
bahagia, ketika subuh tiba ia mendatangi
istrinya disertai cahaya wajahnya dengan cahaya kebahagiaan. Lalu wanita itu
berkata seraya menghampirinya (apa yang lebih aku sukai, cahaya wajahmu atau
sinar matahari) aku tidak melihatmu kecuali engkau melalui malamnya dengan
tenang,
Pemuda itu berkata, bersenang-senanglah wahai samro’, sungguh
kehidupan telah tentram mulai hari ini, sesungguhnya sosok yang hadir yang
mengunjungiku dalam mimpi, ia hadir dengan kebaikan dan kesenangan, ia
menyuruhku menggali sumur di halaman masjid. Maka aku akan menggalinya mulai
hari ini, dan jika berhasil, orang-orang yang haji akan akan minum, kemarilah
haris,ambillah cangkul, keranjang dan sendok. Ikuti ayahmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar