Selasa, 25 Juli 2017

sejarah penggalian sumur zamzam



Penggalian Sumur Zam-Zam
            Abdul Muthallib bertugas sebagai penerima tamu haji. Dan beliau menjamunya setelah pamannya muthallib meninggal. Beliau memberi makan dan minum orang-orang ketika melaksanakan haji ke baitullah. Beliaupun menampung air di beberapa kolam untuk mereka dan kesulitan juga beliau temui di saat pengumpulan air ini untuk minum mereka, kemudian ketika suatu malam beliau tidur, datanglah seorang dengan sosok yang tidak jelas, sosok itu berkata dengan suara yang halus dan aneh, suaranya ramah dan santun  “galilah thaybah” beliau menjawab “ apa itu thaybah?” kemudian sosok itu hilanng.
            Suara itupun terputus, dan pemuda itu bangun terkejut, heran dalam dirinya. Kemudian pemuda itu berupaya tidur kembali agar bisa memimpikan sosok itu agar bisa mendengarkan suara dengan jelas. Akan tetapi kantuk telah pergi, dan menghilang bersama sosok aneh tersebut.
            Kemudian dia lama berfikir serta mempertimbangkan dengan cukup lama dan berbolak balik dalam tidurnya. Karena itu, dia berada di antara tidur dan bangun. Ketika dia bosan diatas tempat tidurnya, maka dia duduk sambil menengadahkan pandangan bingungnya kelangit. Barangkali terik matahari atau bintang malam dapat menafsirkan mimpi tersebut. Kemudian menurunkan pandangannya ke ka’bah, barangkali salah satu dari berhala yang berdiri itu dapat memberikan takbir mimpinya tersebut. Akan tetapi langit terdiam, dan bumi tenang dan di atas patung tersebut terdapat sesuatu kegalauan, maka dia memalingkan pandangannya dari patung-patung tersebut dengan pandangan lelah, dan menjatuhkan dirinya pada ketetapan dirinya yang terdalam berharap menemukan tanda dari mimpinya akan tetapi dia tidak menemukan sesuatu. Maka bertambahlah kesedihannya beserta kekagetannya. Yang tersisa hanyalah harapan. Kemudian bangkitlah Abdul Muthallib untuk menyibukkan dirinya bersama orang agar dapat melupakan kegelisahan dari masalah hidupnya. Dan dia menyambut malam, dan menempati kembali tempat tidurnya dan segalanya telah di lupakan kecuali dia telah berjalan dan berusaha sekuat mungkin bahwa hanya dia butuh untuk beristirahat malam ini.
Dialah yang tidur dalam keadaan tenang dan lelap, dan segala sesuatu di sekitarnya juga tenang dan segala sesuatu yang ada pada badan dan jiwanya juga tenang, tetapi sosok asing itu menghampirinya dengan perlahan hingga dia mendekatinya lalu dia berkata dengan suara yang lirih dan aneh, suaranya lemah dan santun. Jadilah burrah, badannya terang namun jiwanya goncang dan lisannya bergerak dan suaranya muncul dari kedua bibirnya yang halus dan lirih dengan kalimat ini ; dan apakah burrah itu ?? sosok itu hilang dan suaranya terputus.
            Abdul muthallib terbangun dengan perasaan terkejut, dan penuh pertanyaan, dia berfikir dan membolak-balikkan badan, kemudian dia bangkit serta bertanya pada langit, tapi langit terdiam, dan bertanya pada bumi, tapi bumi tenang-tenang saja. Dan bertanya pada berhala-berhala ka’bah tapi tergelam dalam kesedihan, sosok pemuda itu menjadi bingung dengan sendirinya dengan dilangit, dibumi, dan berhala. Dia pergi tidak tentu arah, dan dia pergi dengan menyibukkan diri untuk melupakan sosok aneh ini, dan siangpun berlaku dengan kebaikan dan kejelekannya dan malampun datang sedikit demi sedikit, dia membentangkan selimut hitam kegalauan di sekitar mekkah dari gunung-gunung dan bukit-bukit, malam itu tidak henti-hentinya memanjangkan kegalauan sampai akhirnya tertutup, dan semuanya menjadi gelap, andai kata tidak ada cahaya yang menerangi bumi, dan bintang-bintang sedikit berkelip-kelip di langit.
            dan pemuda itu menghabiskan malamnya dengan orang-orang yang begadang, sampai larut malam, dan ketika keadaan sudah hening mereka semua pulang namun pemuda itu merasa berat untuk bangkit dari tempat berkumpul.Lalu dia berjalan kerumahnya dengan pelan sambil berpikir, haruskah dia tidur atau tidak?
            Lihatlah pemuda itu sesungguhnya dia dalam keadaan bingung, akankah dia tidur karena rasa kantuknya sudah memuncak ? atau dia menahannya untuk tidur. Oleh karena itu dia bingung terhadap apa yang bisa (menahan rasa kantuk), karena rasa kantuk itu bila dibiarkan akan menenggelamkan dirinya dengan perkara-perkaranya.
            Lihatlah! Apakah engkau melihat gerakan ? dengarkan ! apakah engkau dapat memahami ramalan ? semuanya diam, semuanya tenang. Maka apa yang menjauhkanmu dan apa yang mencegahmu ? teruslah tidur, dan jangan takut kepada apapun, sesungguhnya gelombang ini menggoncangkan tetapi tidak sampai menenggelamkan, menghadaplah kepada kedua lengan yang memanjang kearahmu ini, maka engkau akan dapat melupakan segalanya, dan siapa yang tahu? Barangkali di antara keduanya engkau mendapatkan obat dari kebingunganmu.
            pemuda itu (Abdul Muthallib) menutup kedua kelopak matanya, dan terjang dihadapannya, gelombang tidur itu telah menyelimutinya seperti menyelimutinya kepada yang lain dari manusia, namun tetapi apa ? sosok ini datang seraya berlari dengan tenang seakan-akan dia terbang di atas angin, sampai ketika sudah dekat dengan pemuda itu (Abdul Muthallib), lalu berkata dengan suara yang halus dan asing, dengan kelembutan dan sopan santun, (jadilah مضنونة).
            Suara lembut lirik ini terucap diantara kedua bibir pemuda, seraya berkata (apa  مضنونة?) lalu sosok itu menghilang,dan tiba tiba pemuda  tersebut tersadar dalam keadaan takut,dan waspada sungguh segala sesuatu telah berkecamuk dalam jiwanya dan timbullah rasa putus asa.
            Dan itu menghabiskan malam panjangnya dengan berat, hingga matahari membentang menyinari dataran tinggi dan dataran rendah mekkah dengan cahayanya yang cemerlang ini begegas menuju masjid, dia ingin menceritakan masalahnya kepada dukun, akan tetapi hampir sampai ke tempat perkumpulan kaum quraisy. Tiba-tiba kegelisahannya hilang, dan juga kesedihannya, dan hatinya penuh dengan ketenangan dan keteguhan. Apa ? apa dukun mengira kalau aku gila. Dan perkataan ini berkecamuk dalam diriku.
            Kemudian pemuda itu tertidur ditempat tidurnya dengan keadaan yang tenang. Dan saat dia terbangun dari tidur dia merasa bergembira dan senang, akan tetapi orang ini berusaha untuk tenang mendatanginya seakan-akan melayang diudara, sehingga ketika dekat dari pemuda itu menunduk kepadanya, dan meletakkan tangannya yang kedinginan di atas dahi. Suaranya halus dan aneh dengan ramah dan santun, (galilah Zam-zam) dan jiwa pemuda itu penuh dengan kegelisahan, dan membuka kedua bibirnya berkata  (apa zam-zam itu)
            Sosok aneh menjawab dengan suara halus dan ramah, ejekan telah berkecamuk dari suara keasingan, (jangan menjauh para jamaah haji memberi minum, diantara kotoran dan darah disisi patokan burung.
            Sekali-kali tidak, dan pemuda itu datang kepada keluarganya, setelah menemui istrinya istrinya mengingkari kembalinya dia dari pagi, kemudian pemuda tersebut menceritakan kisahnya kepada istrinya, kemudian istrinya berkata kepadanya : tenang, dan janganlah kamu terbelenggu dengan rasa takut dan janganlah kamu berlebihan dalam kegalaun, dan sebenarnya apa yang menghalangi untuk lebih dekat dengan tuhan ? bangkitlah untuk mereka, mendekatkan kepada mereka, maka mereka akan ridha, begitu juga orang-orang fakir dan orang-orang yang kelaparan juga akan ridha.
            Sesaat setelah itu halaman masjid akan penuh dengan manusia dan serambi mekkah memasuki hari yang penuh pengorbanan dan kemakmuran, pada hari itu terdapat banyak makanan dan minuman, dan berhala-berhala itu akan ridla serta pemuda itu sibuk dengan apa yang terlihat, dan Abdul Muthallib itu lupa terhadap sesuatu yang penting baginya, dan tak mengira sudah menghindar dari kejelekan dan tak kembali terjerat dalam kekejian.
            Maka pemuda itu berkata. (sekarang aku sudah tahu) dan dia beredar dengan senang dan bahagia,  ketika subuh tiba ia mendatangi istrinya disertai cahaya wajahnya dengan cahaya kebahagiaan. Lalu wanita itu berkata seraya menghampirinya (apa yang lebih aku sukai, cahaya wajahmu atau sinar matahari) aku tidak melihatmu kecuali engkau melalui malamnya dengan tenang,
Pemuda itu berkata, bersenang-senanglah wahai samro’, sungguh kehidupan telah tentram mulai hari ini, sesungguhnya sosok yang hadir yang mengunjungiku dalam mimpi, ia hadir dengan kebaikan dan kesenangan, ia menyuruhku menggali sumur di halaman masjid. Maka aku akan menggalinya mulai hari ini, dan jika berhasil, orang-orang yang haji akan akan minum, kemarilah haris,ambillah cangkul, keranjang dan sendok. Ikuti ayahmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rangkuman Kisah nabi

BAGI YG ISLAM. TAK DIBACA SAYANG_*.👇 ✐ Selepas Malaikat Israfil meniup sangkakala (bentuknya seperti tanduk besar) yang memekak...