BAB
I
PEMBAHASAN
JENIS,
PRINSIP, CIRI, METODE DAN PENDEKATAN DALAM BELAJAR
A.
Jenis-jenis
belajar
Proses belajar dapat dikatagorikan beberapa jenis:
1.
Belajar
abstrak ( abstract learning ): adalah menggunakan cara berfikir abstrak yang
bertujuan memperoleh pemahaman dan pengertian terhadap sesuatu yang bersifat
abstrak/ tidak nyata. Belajar jenis ini memerlukan peranan akal yang kuat dan
penguasaan prinsip-prinsip, konsep. Contoh: pembelajaran agama islam adalah
belajar ilmu tauhid, yang memerlukan prinsip-prinsip ketuhanan dalam islam.
2.
Belajar
keterampilan ( vocational learning ): adalah belajar dengan menggunakan
gerakan-gerakan motorik, yang berhubungan dengan urat syaraf dan otot-otot
neuromuscular, yang bertujuan untuk menguasai keterampilan jasmaniyah tertentu.
contohnya, belajar memperbaiki mobil, belajar music, belajar olahraga. Dalam
kontek agama seperti manasik haji, merawat jenasah, praktek wudhu’ dll.
3.
Belajar
social ( social learning ): adalah belajar dalam menguasai dan memahami masalah
sosial, yang bertujuan agar dapat memecahkan persoalan-persoalan sosial, kemasyarakatan
yang bersangkut paut dengan kelompok, jamaah, komonitas sekolah. Yang termasuk
jenis belajar ini adalah ilmu sosial kewarganegaraan ( civic education ).
4.
Belajar
pemecahan masalah ( problem solving learning ): adalah belajar untuk dapat
menggunakan metode berfikir ilmiah secara sistematis, logis, dan akurat.
Tujuannya adalah agar dapat memecahkan persoalan secara rasional.
5.
Belajar
rasional ( rational learning ): adalah belajar dengan menggunakan kemampuan
berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh
macam-macam kemampuan menggunakan prinsip dan konsep.
6.
Belajar
kebiasaan ( habitual learning ): adalah upaya melahirkan kebiasaan yang dan
bermaksud menghilangkan kebiasaan yang lama. Tujuannya adalah agar siswa
mendapatkan sifat-sifat dan kebiasaaan yang lebih baik dan bermanfaat,[1]
sekaligus menghilangkan kebiasaan yang tidak baik.
B.
Prinsip-prinsip
belajar
Prinsip-prinsip umum yang berkaitan dengan proses belajar:
v Perhatian dan motivasi
v Keaktifan
v Keterlibatan langsung dan pengalaman
v Pengulangan
v Tantangan
v Penguatan
v Perbedaan individual
C.
Metode dan
pendekatan belajar
1)
Pendekatan
hukum jost: Yang mendasari hukum jost adalah bahwa anak didik yang lebih sering
mempraktekkan materi pelajaran akan lebih mudah memanggil kembali memori lama
yang berhubungan dengan materi yang sedang ditekuni.
Hukum ini sejalan dengan prinsip
pengulangan dalam belajar, intinya bahwa makin banyak seseorang mengulang apa
yang dipelajari, maka semakin kuat ia menyimpan dan semakin mudah memproduksi
informasi.[2]
2)
Pendekatan
ballard dan clanchy: menurut hukum ini pendekatan belajar siswa secara umum
dipengaruhi oleh sikap terhadap ilmu pengetahuan yang sedang ia pelajari.
-
Ada dua
sikap seseorang menyikapi ilmu pengetahuan:
i.
Conserving
yaitu mempertahankan pengetahuan yang telah dimiliki, sikap ini menggunakan
pendekatan belajar reproduktif yaitu menghasilkan kembali fakta dan informasi.
ii.
Extending
yaitu sikap memperluas pengetahuan yang telah dimiliki. Pendekatan ini
menggunakan pendekatan analitis.[3]
3)
Pendekatan
biggs: pendekatan ini dilahirkan dari penelitian yang dilakukan oleh Jonh Biggs,
yang mengelompokan pendekatan belajar siswa dalam tiga kelompok:
Ø Pendekatan surface ( permukaan/ bersifat
lahiriah )
Ø Pendekatan deep ( mendalam )
Ø Pendekatan achiving ( berprestasi )
·
Sedangkan metode
belajar, diantaranya dikembangkan oleh francis P. Robinson sebagai berikut:
ü Survei, memeriksa dan meneliti seluruh isi
teks. Tujuannya agar siswa mengetahui panjangnya teks, judul bagian ( heading )
dan judul sub bagian, istilah, kata kunci dll.
ü Question yaitu menyusun daftar pertanyaan yang
relevan dengan teks.
ü Read yaitu membaca teks secara aktif untuk
mencari jawaban atas pertanyaan yang telah disusun. Membaca secara aktif adalah
membaca secara detail dan terfokus terhadap paragraph yang diyakini memberikan
jawaban terhadap pertanyaan yang telah disusun.
ü Review yaitu meninjau ulang seluruh jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan yang tersusun pada langkah kedua dan ketiga.
BAB
II
TEORI
BELAJAR BEHAVIORISME DAN HUMANISME
A.
Teori
Belajar Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami
perilaku individu. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena
jasmani, dan mengabaikan aspk-aspek mental. Dengan kata lain behaviorisme tidak
mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu
mengajar.
Teori kaum behaviorisme lebih dikenal dengan nama
teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar
artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme
tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau
emosional, akan tetapi behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilaku
dikendalikan oleh factor lingkungan.
* Ciri dari teori ini
behaviorisme anatara lain:
Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologi
artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan
penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Guru yang menganut pandangan ini
berpendapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan
tingkah laku adalah hasil belajar.
Teori belajar a adalah prinsip umum atau kumpulan
prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta
dan penemuan yang berkaitan dengan aktivitas belajar.
A. Teori Belajar Humanisme
Pembelajaran dengan menggunakan pandangan dan prinsip
aliran belajar humanistic, juga mengupayakan pembelajaran yang dapat
menumbuhkembangkan kemampuan peserta didik memebantu anak didik untuk
meningkatkan kemampuan berkreasi, berimajinasi, mempunyai pengalaman,
berintuisi, merasakan dan berfantasi. Para guru/ pendidik dengan pandangan ini
mengupayakan untuk melihat dalam spectrum yang luas mengenai perilaku manusia.
Dalam pandangan ini sangat tampak bahwa pembelajaran dengan pendekatan ini
sangat menekankan aspek emosi. Emosi dilihat sebagai suatu yang memerikan
keuntungan dalampembelajaran dan pendidikan.
Menurut teori belajar humanistic, pendidik diharapkan
dapat membantu dalam mengembangkan diri siswa untuk mengenaldiri mereka sendiri
sebagai manusia yang unik, dan membantu siswa dalam mewujudkan potensi dalam
kita sendiri.
Prinsip-prinsip belajar humanistic:
Ø
Manusia
mempunyai belajar alami
Ø
Belajar
signifikan apabila terjadi materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi
dengan maksud tertentu.
Ø
Belajar
menyangkut perubahan dalam persepsi dirinya sendiri
Ø
Belajar
lancar jika siswa dilibatkan dalam proses belajar
Aliran belajar humanistic memberikan penekanan pada
proses pembelajaran sebagai berikut: penyusunan dan penyajian materi pelajaran
harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa. Tujuan utama pendidik adalah
membantu siswa mengembangkan dirinya yaitu membatu individu untuk mengenal
dirinya sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu mewujudkan potensi
mereka.
Para ahli humanistic ada 2 bagian pada proses belajar:
v Proses pemerolehan informasi baru
v Personalisasi informasi ini pada individu
Tujuan pembelajaran lebih diutamakan pada prosesnya
bukan pada hasinya. Pada umumnya proses pembelajaran adalah, * merumuskan
tujuan belajar yang jelas,* mengusahakan adanya partisipasi siswa,* mendorong
inisiatif siswa untuk peka kritis,* mengemukakan pendapat. Pada teori ini lebih
menekankan pada proses daripada hasil pembelajaran sehingga siswa harus aktif.
Guru yang baik menurut teori ini adalah: - guru yang humoris
-
Adil,
menarik, lebih demokratis,mampu berhubungan dengan siswa dengan wajar
Sedangkan guru yang tidak efektif adalah sedangkan
guru yang tidak efektif adalah humoris yang rendah, mudah menjadi tidak sabar,
suka melukai perasaan siswaengan lomentar yang menyakitkan
Tokoh aliran humanistic:
a. Combs: Seorang tokoh aliran psikologi humanistic yang
menyatakan bahwa apabila kita ingin merubah perilaku anak didik, maka kita
harus dapat memahami pandangan dan keyakinan anak tersebut kemudian merubah
pandangan itu. Menurut Combs guru tidak hanya mengharapkan murid belajar sesuai
dengan mata pelajaran yang ia susun, tapi harus berupaya agar murid memperoleh
arti pribadinya dari mata pelajaran itu.
b Maslow: Bahwa
guru dalam mengajar anak didik harus dapat memberikan pemuasaan terhadap
kebutuhan-kebutuhan ( need ) anak. Ia mengatakan bahwa motivasi dan
perhatian belajar anak akan tumbuh jika yang ia pelajari sesuai dengan
kebutuhannya.
c. Roger : proses belajar
humanistic dengan beberapa prinsip.
v Manusia mempunyai
kemampuan untuk belajar secara alami.
v Belajar berarti jika
mata pelajaran sesuai dengan maksudnya sendiri.
v Belajar akan bermakna
jika siswa melakukannya, bertanggung jawab, berinisiatif, percaya pada diri
sendiri, kreatif dll.
DAFTAR PUSTAKA
ü Dr. H. M. Mochlis
Sholihin, M.Ag, Psikologi belajar, Salsabila Putra Pratama, 2013.
ü Muhibbin Syah, Psikologi
Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002
Tidak ada komentar:
Posting Komentar